Perkuat Moderasi Beragama, IAIN Pekalongan Gelar Studium General

10 September 2021

Pekalongan- Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pekalongan menggelar Studium Generale Semester Gasal Tahun Akademik 2021/2022 pada Kamis (9/9/2021) pukul 08.00 WIB. Kuliah umum ini dilaksanakan secara blended yakni daring melalui aplikasi Zoom Meeting dan luring dengan jumlah peserta terbatas yang bertempat di studio virtual Fakultas Syariah Kampus Rowolaku IAIN Pekalongan. Adapun peserta kegiatan ini adalah mahasiswa baru, dosen, dan tenaga kependidikan di lingkungan IAIN Pekalongan.

Selain itu tidak sedikit pula peserta umum dari luar IAIN pekalongan baik dari akademisi, peneliti, peminat kajian ke-Islaman maupun yang lainnya. Tercatat 4.700an peserta tergabung dalam zoom meeting dan dengan antusias mengikuti kuliah umum sampai akhir. 

Tema yang diangkat dalam kuliah umum kali ini adalah “Muslim Milenial dan Tantangan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam dalam Mempromosikan Moderasi Beragama di Indonesia”. Hadir sebagai pembicara, Prof. Sumanto Al Qurtuby, Ph.D. (Profesor Antropologi Agama King Fahd University-Arab Saudi/Direktur Nusantara Institute) dan Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid atau biasa dikenal dengan Yenny Wahid (Direktur The Wahid Institute), serta dimoderatori oleh Ketua Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir, Kurdi, M.S.I.

Acara ini dibuka langsung oleh Rektor IAIN Pekalongan, Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag. Mengawali sambutannya, Zaenal menyampaikan ucapan terimakasih kepada dua narasumber handal atas kesediannya menjadi pembicara kuliah umum kali ini. Lebih lanjut ia mengajak para mahasiswa baru untuk bersama-sama meyakini, memahami dan mengamalkan ajaran agama secara adil dan seimbang sehingga menghasilkan cara pandang, sikap, dan perilaku yang selalu mengambil posisi jalan tengah di antara dua hal yang ekstrimis, tidak condong ke kanan sehingga menjadi fundamental dan radikal dan juga tidak condong ke kiri sehingga menjadi liberal, ungkapnya. Melanjutkan sambutannya, ia mengutip apa yang pernah disampaikan K.H. Ma’ruf Amin bahwa ada empat indikator dalam mengamalkan moderasi beragama, yaitu: bersikap toleran akan keragaman, anti kekerasan dalam menyelesaikan persoalan, memiliki komitmen kebangsaan yang tinggi, dan bersikap akomodatif terhadap budaya lokal yang ada. “Kita berharap mahasiswa memiliki pandangan dan sikap moderasi beragama, ditengah problem radikalisme dan ekstrimisme yang mengancam stabilitas keamanan negara kita”, pungkasnya.   

Sumanto Al Qurtuby dalam penyampaian materinya menjelaskan bahwa salah satu tantangan mendasar umat beragama adalah mewujudkan moderasi beragama, maka untuk mewujudkan spirit toleransi, moderasi, pluralisme, dan perdamaian di masyarakat, yang penting dilakukan warga negara dan umat beragama adalah membangun budaya dialog dan bukan berdebat, tidak selamanya perbedaan pendapat harus disatukan, yang terpenting adalah adanya sikap menerima akan adanya berbagai pendapat yang berbeda, ungkapnya. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa dalam konteks relasi antaragama, dialog adalah jalan terbaik dan terbijak untuk membangun hubungan yang harmonis, toleran dan damai antar kelompok agama dan masyarakat, pungkasnya. 

Sementara itu di awal penyampaian materinya, Yenny Wahid mengungkapkan rasa syukur dan bangga menjadi bagian dari Indonesia. Negara dengan 17.491 pulau, 270,2 juta penduduk, 633 suku bangsa, 718 bahasa ibu, 187 organisasi penghayat kepercayaan, dan 6 agama yang dianut penduduknya mampu bersatu dalam bingkai keragaman, ungkapnya. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sikap moderat dalam berbagai hal sangat dibutuhkan dalam menghadapi keragaman, dan hanya dengan karakter moderat, keanekaragaman bangsa dapat dikelola dan dipelihara dengan baik, tegas putri Presiden ke-empat KH. Abdurrahman Wahid. Yenny juga menegaskan bahwa Pancasila dan al-Qur’an tidak perlu dipertentangkan satu sama lain. Jika ada yang mempertentangkan Pancasila dengan al-Qur’an maka bisa jadi orang tersebut belum mampu memahami ajaran al-Qur’an dengan sempurna karena di dalam Pancasila itu sendiri terkandung nilai-nilai ajaran Islam yang termaktub dalam al-Qur’an. 

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan, Dr. Maghfur, M.Ag, bersyukur bahwa peserta kuliah umum kali ini membludak dari kapasitas awal tiga ribuan peserta menjadi empat ribuan peserta yang masuk dan tercatat dalam aplikasi Zoom Meeting. Selain itu, kegiatan ini juga didesain secara simultan, tidak hanya sebagai pertanda telah dimulainya aktivitas perkuliahan di semester ini, melainkan juga sebagai ajang pemetaan keberagamaan dan ideologi beragama mahasiswa beserta seluruh sivitas akademika IAIN Pekalongan. Selain itu, kegiatan ini juga sebagai ajang promosi IAIN Pekalongan di kancah dunia, dan sebagai ikhtiar institusi untuk mendekatkan IAIN Pekalongan dengan keluarga dan pemikiran K.H. Abdurrahman Wahid sebagai calon nama jika satu saat nanti resmi bertransformasi menjadi UIN Pekalongan “Road to UIN Abdurrahman Wahid”,  pungkasnya. 


Reporter  : M. Najmul Afad

Editor      : Rahmat Kamal

Redaktur  : Humas Bagian Umum

           
IAIN PEKALONGAN
Kampus 1: Jl. Kusuma Bangsa No.9 Kota Pekalongan 51141
Kampus 2: Jl. Pahlawan Km.5 Rowolaku Kajen Kab. Pekalongan 51161
Telp: +62 (285) 412575
Fax : +62 (285) 423418
Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…